1. Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama – sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
2. Ia pada mulanya bersama – sama dengan Allah.
3. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.
4. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.
5. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.
6. Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes;
7. Ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya.
8. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu.
9. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.
10. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.
11. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang – orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.
12. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberinya kuasa supaya menjadi Anak – Anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;
13. Orang – orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki – laki, melainkan dari Allah.
14. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.
Pada mulanya adalah Firman, merupakan bahasa “ke-ingkar-an” akan Maha Dahulunya Allah melalui pernyataan Penulis Injil Yohanes yang berbunyi “Pada mulanya”. Ia mengisyaratkan bahwa Firmanlah yang terdahulu, sehingga timbul penafsiran bahwa Firman adalah yang pertama, baik dari segi “kepentingannya” yaitu “menciptakan” maupun dari segi “waktu” (temporal) kehadirannya.
Pada pernyataan tersebut penulis kitab Yohanes telah memilih untuk mengagungkan Firman dan melupakan Allah, sekalipun pada kalimat berikutnya penulis Kitab segera insaf dan berusaha untuk memperhalus kesalahan itu (ay.2) dan menyatakan “Ia pada mulanya bersama – sama dengan Allah”. Jika ayat 2 (dua) tersebut bukan “pengoreksi” ayat 1 (pertama) maka, ayat 1 (pertama) tersebut seharusnya berbunyi : “Pada mulanya adalah Allah, dan Firman bersama-sama dengan Allah”. Namun, kalimat ini tidak cocok pada maksud penulis untuk mengkultuskan Firman sebagai yang “utama”.
Firman itu bersama – sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Kalimat ini adalah kalimat yang digunakan sebagai penutup aib yang terjadi pada ucapan Penginjil pada kalimat pertamanya. Sesungguhnya jika kalimat ini dituliskan, maka kalimat “pada mulanya adalah Firman” pada hakikatnya telah terhapus secara makna, sekalipun masih tersimpan secara harfiah. Kenapa penginjil masih membiarkannya dalam kitabnya? Agar penginjil dapat memperkuat akan ketuhan Yesus yang ia sampaikan pada ayat 14 yang berbunyi : “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, …”.
“Firman itu bersama – sama dengan Allah”, memiliki makna yang jelas bahwa Firman hanyalah sesuatu yang ikut serta dengan kehadiran ALLAH. Firman bukan lagi sebagai tokoh utama yang dinomor satukan. Sekarang penginjil telah merubah posisi itu dan memposisikan Allah sebagai tokoh nomor satu. Agar manusia tidak terkejut oleh perubahan posisi yang sangat mendadak itu, Penginjil dengan halus menambahkan kalimat “dan Firman itu adalah Allah”.
Menjadikan Firman sama dengan Allah pada hakikatnya adalah suatu kekeliruan atau kemusyrikan (penyekutuan Tuhan dengan sesuatu), sebab dengan menyatakan hal itu maka secara sengaja Firman itu telah dianggap sebagai Tuhan sehingga setiap Firman Allah akan disembah layaknya Allah. Firman yang telah diwahyukan kepada Rasul-Nya bisa dibaca dan bisa dilihat huruf – hurufnya, sedangkan Allah tidak pernah berubah menjadi suatu bacaan atau wahyu. Di sini kita pahami bahwa sesungguhnya Allah tidak sama dengan Firman; Allah bukan Firman dan Firman bukanlah Allah.
Ketahuilah bahwa Firman itu tidak akan pernah menjadi Tuhan karena firman itu ada oleh karena adanya Allah, jika Allah tidak ada maka firman tidak akan pernah ada; sekalipun firman tidak ada, maka Allah tetap ada karena Dialah satu – satunya yang ada dan yang lain adalah yang diadakan oleh-Nya. Firman tidak berkehendak sebab firman terwujudkan oleh karena kehendak Dia yang memiliki firman itu.
Ayat berikutnya berbunyi : Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Kalimat ini secara jelas menyatakan bahwa : “Segala sesuatu dijadikan oleh Firman dan tanpa Firman tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan (oleh Allah atau Firman?)”. Pernyataan ini merupakan suatu penyangkalan terhadap kekuasaan Allah dalam menciptakan segala sesuatu. Penginjil menganggap bahwa kekuasaan penciptaan terletak pada firman dan bukan Allah yang memiliki kekuasaan dalam hal itu. Bagi mereka seakan – akan Allah tidak bisa berbuat apa – apa tanpa adanya firman dan Allah secara tidak langsung mereka anggap sebagai “yang lemah”. Keyakinan Kristen yang mengakui bahwa Allah adalah Khalik (Pencipta) langit dan bumi yang Mahakuasa yang dinyatakan dalam teks “Pengakuan Iman Rasuli” menjadi batal dan tidak berlaku lagi oleh karena pernyataan ini. Di mana yang benar? Allahkah yang Menciptakan atau Firmankah? Tentu bagi yang memiliki akal “sehat”, Pencipta yang Benar adalah Allah, dan bukan yang lain.
Pelaku dari pada penciptaan itu, bukanlah firman sebagaimana yang dinyatakan penulis kitab Yohanes di atas. Segala sesuatu itu ada karena diadakan oleh Allah baik melalui firman-Nya maupun melalui kemahakuasaan-Nya. Dalam Alkitab disebutkan bahwa Allah menciptakan terang, cakrawala, darat, laut, tumbuh – tumbuhan, matahari, bulan, bintang, binatang – binatang laut, dan binatang – binatang darat adalah melalui firmannya; sedangkan penciptaan manusia bukanlah melalui firmannya. Alkitab menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia melalui “kehendak-Nya” dengan membentuk Adam dari Tanah dan meniupkan Nafas Kehidupan melalui hidung manusia itu; artinya, manusia tercipta bukan hanya dengan mengatakan “jadi! Maka jadilah ia”, melainkan melalui berbagai proses yang lebih panjang dibanding penciptaan yang lain.
Para pembela Bible menyatakan bahwa Allah menciptakan manusia dengan terlebih dahulu melakukan perundingan kepada “teman-Nya” dengan berfirman : "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." (Kej. 1:26). Menurut pemahaman mereka, bahwa objek di mana Tuhan “bermusyawarah” ini adalah dengan “Firman” yang menjadi manusia (dalam kurung) Yesus Kristus. Pemahaman ini akhirnya menabrak keyakinan akan KEMAHATUNGGALAN Allah serta KEKUASAANNYA yang TIADA TERBATAS.
Nah, jika pada penciptaan saja telah dinyatakan bahwa Allah mempunyai “teman” untuk berunding, maka tentu Dia bukanlah Maha Esa, melainkan terdiri dari 2 oknum, yaitu : Allah dan TEMANNYA BERMUSYAWARAH menciptakan manusia, sehingga keyakinan Kristen akan Keesaan Tuhan menjadi batal dan tidak berfungsi secara hakikatnya (hanya sebatas pengakuan bibir semata).
Ayat berikutnya :
Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Kalimat ini secara jelas menyatakan bahwa : “Dalam firman ada hidup dan hidup itu terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya”. Pernyataan ini merupakan sambungan yang menyatakan bahwa firman itu adalah pencipta, oleh karena itu kehidupan itu ada di dalam dia.
Di atas kita telah mengetahui bahwa pernyataan tentang firman sebagai pencipta adalah ketidakbenaran maka hal – hal yang berkaitan dengan pernyataan itu menjadi ketidakbenaran; dan pernyataan Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya, adalah yang berkaitan dengannya, maka dengan sendirinya pernyataan ini menjadi hal yang tertolak sebagaimana yang kami jelaskan sebelumnya. Firman itu bukan pemilik kehidupan, dia tidak memiliki daya dan kekuatan apa pun tanpa Allah. Jika ingin mengetahui siapakah sumber kehidupan itu, maka kenalilah Allah melalui sifat – sifat-Nya yang Agung. Dia tidak bersifat lemah melainkan Dia adalah Tuhan yang Mahamulia sifat – sifat-Nya.
Pernyataan Yohanes di atas dapat menjadi benar dan sesuai dengan ajaran Yesus dan para nabi, maka hendaklah berbunyi sebagaimana yang kami uraikan berikut ini. Tapi, ingat pernyataan tersebut bukanlah berasal dari Yesus Al Masih karena pernyataannya jauh menyimpang dari kebenaran yang dibawa oleh Yesus itu sendiri. Inilah seharusnya pernyataan Yohanes itu jika ingin tidak menabrak KEESAAN TUHAN :
1. Pada mulanya adalah Allah;
2. Allah adalah satu – satunya permulaan dan tidak ada sesuatu apapun yang mendahului-Nya.
3. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada sesuatu apa pun yang telah dijadikan.
4. Dia adalah sumber kehidupan yang oleh karena Dia kita hidup dan Dia mengutus hamba yang dipilih-Nya untuk menyampaikan hukum – hukum-Nya agar menjadi terang manusia.
5. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.
6. Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes;
7. Ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang kedatangan pembawa terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya.
8. Ia bukan pembawa terang itu, tetapi ia memberi kesaksian tentang pembawa terang itu.
9. Terang yang sesungguhnya dari Allah, yang menerangi umat yang kepadanya ia diutus.
10. Ia diutus kepada umatnya, tetapi umatnya tidak mengenalnya.
11. Ia datang kepada kaumnya, tetapi kaumnya itu tidak menerimanya.
12. Tetapi kaumnya yang menerima-Nya akan menjadi hamba dan kekasih Allah, yaitu mereka yang percaya kepadanya;
13. Mereka itu semua bersaudara. Persaudaraan mereka bukan karena hubungan darah atau hubungan daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki – laki, melainkan bersaudara karena Allah.
14. Firman itu disampaikan oleh manusia utusan Allah, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan ajarannya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadanya sebagai Utusan Allah, penuh kasih karunia dan kebenaran.
Demikianlah yang seharusnya tercatat dalam nats itu, agar tidak bertentangan dengan hukum dan ketetapan Allah, Tuhan yang menciptakan kita. Di dalamnya tidak ada pertentangan dan tidak ada keraguan untuk dapat diterima oleh siapapun yang mengenal Allah. Semoga bermanfaat bagi yang ingin memperbaiki kehidupan kerohanian mereka, dan semoga menjadi saksi di hari kiamat, bahwa kami telah memberikan peringatan.
2. Ia pada mulanya bersama – sama dengan Allah.
3. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.
4. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.
5. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.
6. Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes;
7. Ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya.
8. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu.
9. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.
10. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.
11. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang – orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.
12. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberinya kuasa supaya menjadi Anak – Anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;
13. Orang – orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki – laki, melainkan dari Allah.
14. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.
Pada mulanya adalah Firman, merupakan bahasa “ke-ingkar-an” akan Maha Dahulunya Allah melalui pernyataan Penulis Injil Yohanes yang berbunyi “Pada mulanya”. Ia mengisyaratkan bahwa Firmanlah yang terdahulu, sehingga timbul penafsiran bahwa Firman adalah yang pertama, baik dari segi “kepentingannya” yaitu “menciptakan” maupun dari segi “waktu” (temporal) kehadirannya.
Pada pernyataan tersebut penulis kitab Yohanes telah memilih untuk mengagungkan Firman dan melupakan Allah, sekalipun pada kalimat berikutnya penulis Kitab segera insaf dan berusaha untuk memperhalus kesalahan itu (ay.2) dan menyatakan “Ia pada mulanya bersama – sama dengan Allah”. Jika ayat 2 (dua) tersebut bukan “pengoreksi” ayat 1 (pertama) maka, ayat 1 (pertama) tersebut seharusnya berbunyi : “Pada mulanya adalah Allah, dan Firman bersama-sama dengan Allah”. Namun, kalimat ini tidak cocok pada maksud penulis untuk mengkultuskan Firman sebagai yang “utama”.
Firman itu bersama – sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Kalimat ini adalah kalimat yang digunakan sebagai penutup aib yang terjadi pada ucapan Penginjil pada kalimat pertamanya. Sesungguhnya jika kalimat ini dituliskan, maka kalimat “pada mulanya adalah Firman” pada hakikatnya telah terhapus secara makna, sekalipun masih tersimpan secara harfiah. Kenapa penginjil masih membiarkannya dalam kitabnya? Agar penginjil dapat memperkuat akan ketuhan Yesus yang ia sampaikan pada ayat 14 yang berbunyi : “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, …”.
“Firman itu bersama – sama dengan Allah”, memiliki makna yang jelas bahwa Firman hanyalah sesuatu yang ikut serta dengan kehadiran ALLAH. Firman bukan lagi sebagai tokoh utama yang dinomor satukan. Sekarang penginjil telah merubah posisi itu dan memposisikan Allah sebagai tokoh nomor satu. Agar manusia tidak terkejut oleh perubahan posisi yang sangat mendadak itu, Penginjil dengan halus menambahkan kalimat “dan Firman itu adalah Allah”.
Menjadikan Firman sama dengan Allah pada hakikatnya adalah suatu kekeliruan atau kemusyrikan (penyekutuan Tuhan dengan sesuatu), sebab dengan menyatakan hal itu maka secara sengaja Firman itu telah dianggap sebagai Tuhan sehingga setiap Firman Allah akan disembah layaknya Allah. Firman yang telah diwahyukan kepada Rasul-Nya bisa dibaca dan bisa dilihat huruf – hurufnya, sedangkan Allah tidak pernah berubah menjadi suatu bacaan atau wahyu. Di sini kita pahami bahwa sesungguhnya Allah tidak sama dengan Firman; Allah bukan Firman dan Firman bukanlah Allah.
Ketahuilah bahwa Firman itu tidak akan pernah menjadi Tuhan karena firman itu ada oleh karena adanya Allah, jika Allah tidak ada maka firman tidak akan pernah ada; sekalipun firman tidak ada, maka Allah tetap ada karena Dialah satu – satunya yang ada dan yang lain adalah yang diadakan oleh-Nya. Firman tidak berkehendak sebab firman terwujudkan oleh karena kehendak Dia yang memiliki firman itu.
Ayat berikutnya berbunyi : Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Kalimat ini secara jelas menyatakan bahwa : “Segala sesuatu dijadikan oleh Firman dan tanpa Firman tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan (oleh Allah atau Firman?)”. Pernyataan ini merupakan suatu penyangkalan terhadap kekuasaan Allah dalam menciptakan segala sesuatu. Penginjil menganggap bahwa kekuasaan penciptaan terletak pada firman dan bukan Allah yang memiliki kekuasaan dalam hal itu. Bagi mereka seakan – akan Allah tidak bisa berbuat apa – apa tanpa adanya firman dan Allah secara tidak langsung mereka anggap sebagai “yang lemah”. Keyakinan Kristen yang mengakui bahwa Allah adalah Khalik (Pencipta) langit dan bumi yang Mahakuasa yang dinyatakan dalam teks “Pengakuan Iman Rasuli” menjadi batal dan tidak berlaku lagi oleh karena pernyataan ini. Di mana yang benar? Allahkah yang Menciptakan atau Firmankah? Tentu bagi yang memiliki akal “sehat”, Pencipta yang Benar adalah Allah, dan bukan yang lain.
Pelaku dari pada penciptaan itu, bukanlah firman sebagaimana yang dinyatakan penulis kitab Yohanes di atas. Segala sesuatu itu ada karena diadakan oleh Allah baik melalui firman-Nya maupun melalui kemahakuasaan-Nya. Dalam Alkitab disebutkan bahwa Allah menciptakan terang, cakrawala, darat, laut, tumbuh – tumbuhan, matahari, bulan, bintang, binatang – binatang laut, dan binatang – binatang darat adalah melalui firmannya; sedangkan penciptaan manusia bukanlah melalui firmannya. Alkitab menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia melalui “kehendak-Nya” dengan membentuk Adam dari Tanah dan meniupkan Nafas Kehidupan melalui hidung manusia itu; artinya, manusia tercipta bukan hanya dengan mengatakan “jadi! Maka jadilah ia”, melainkan melalui berbagai proses yang lebih panjang dibanding penciptaan yang lain.
Para pembela Bible menyatakan bahwa Allah menciptakan manusia dengan terlebih dahulu melakukan perundingan kepada “teman-Nya” dengan berfirman : "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." (Kej. 1:26). Menurut pemahaman mereka, bahwa objek di mana Tuhan “bermusyawarah” ini adalah dengan “Firman” yang menjadi manusia (dalam kurung) Yesus Kristus. Pemahaman ini akhirnya menabrak keyakinan akan KEMAHATUNGGALAN Allah serta KEKUASAANNYA yang TIADA TERBATAS.
Nah, jika pada penciptaan saja telah dinyatakan bahwa Allah mempunyai “teman” untuk berunding, maka tentu Dia bukanlah Maha Esa, melainkan terdiri dari 2 oknum, yaitu : Allah dan TEMANNYA BERMUSYAWARAH menciptakan manusia, sehingga keyakinan Kristen akan Keesaan Tuhan menjadi batal dan tidak berfungsi secara hakikatnya (hanya sebatas pengakuan bibir semata).
Ayat berikutnya :
Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Kalimat ini secara jelas menyatakan bahwa : “Dalam firman ada hidup dan hidup itu terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya”. Pernyataan ini merupakan sambungan yang menyatakan bahwa firman itu adalah pencipta, oleh karena itu kehidupan itu ada di dalam dia.
Di atas kita telah mengetahui bahwa pernyataan tentang firman sebagai pencipta adalah ketidakbenaran maka hal – hal yang berkaitan dengan pernyataan itu menjadi ketidakbenaran; dan pernyataan Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya, adalah yang berkaitan dengannya, maka dengan sendirinya pernyataan ini menjadi hal yang tertolak sebagaimana yang kami jelaskan sebelumnya. Firman itu bukan pemilik kehidupan, dia tidak memiliki daya dan kekuatan apa pun tanpa Allah. Jika ingin mengetahui siapakah sumber kehidupan itu, maka kenalilah Allah melalui sifat – sifat-Nya yang Agung. Dia tidak bersifat lemah melainkan Dia adalah Tuhan yang Mahamulia sifat – sifat-Nya.
Pernyataan Yohanes di atas dapat menjadi benar dan sesuai dengan ajaran Yesus dan para nabi, maka hendaklah berbunyi sebagaimana yang kami uraikan berikut ini. Tapi, ingat pernyataan tersebut bukanlah berasal dari Yesus Al Masih karena pernyataannya jauh menyimpang dari kebenaran yang dibawa oleh Yesus itu sendiri. Inilah seharusnya pernyataan Yohanes itu jika ingin tidak menabrak KEESAAN TUHAN :
1. Pada mulanya adalah Allah;
2. Allah adalah satu – satunya permulaan dan tidak ada sesuatu apapun yang mendahului-Nya.
3. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada sesuatu apa pun yang telah dijadikan.
4. Dia adalah sumber kehidupan yang oleh karena Dia kita hidup dan Dia mengutus hamba yang dipilih-Nya untuk menyampaikan hukum – hukum-Nya agar menjadi terang manusia.
5. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.
6. Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes;
7. Ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang kedatangan pembawa terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya.
8. Ia bukan pembawa terang itu, tetapi ia memberi kesaksian tentang pembawa terang itu.
9. Terang yang sesungguhnya dari Allah, yang menerangi umat yang kepadanya ia diutus.
10. Ia diutus kepada umatnya, tetapi umatnya tidak mengenalnya.
11. Ia datang kepada kaumnya, tetapi kaumnya itu tidak menerimanya.
12. Tetapi kaumnya yang menerima-Nya akan menjadi hamba dan kekasih Allah, yaitu mereka yang percaya kepadanya;
13. Mereka itu semua bersaudara. Persaudaraan mereka bukan karena hubungan darah atau hubungan daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki – laki, melainkan bersaudara karena Allah.
14. Firman itu disampaikan oleh manusia utusan Allah, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan ajarannya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadanya sebagai Utusan Allah, penuh kasih karunia dan kebenaran.
Demikianlah yang seharusnya tercatat dalam nats itu, agar tidak bertentangan dengan hukum dan ketetapan Allah, Tuhan yang menciptakan kita. Di dalamnya tidak ada pertentangan dan tidak ada keraguan untuk dapat diterima oleh siapapun yang mengenal Allah. Semoga bermanfaat bagi yang ingin memperbaiki kehidupan kerohanian mereka, dan semoga menjadi saksi di hari kiamat, bahwa kami telah memberikan peringatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berikan komentar yang santun dan membangun serta solusi terbaik dari apa yang anda anggap sebagai kekeliruan. Admin berhak untuk menghapus komentar yang tidak mengindahkan himbauan ini. Terima kasih.