Oleh : Realis Gea, S.Kom
بسم الله الرحمٰن الرحيم
Dan
demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan
(dari jenis) manusia dan (jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian
yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)[1]. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak
mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.
Dalam ayat
tersebut dikatakan “لكل نبي عدوا” (bagi tiap-tiap nabi itu ada
musuh). Pada tahap ini, Allah Sub-haanaHu Wa Ta’aalaa menyampaikan suatu
gambaran bahwa manusia yang telah diangkat-Nya sebagai Nabi semuanya mempunyai
musuh. Dan hal ini NYATA adanya, bahwa semua para Nabi yang telah muncul di
masa lalu, tidak ada yang tidak mempunyai musuh, khususnya nabi-nabi dari
bangsa Israel.
Selanjutnya
Allah Sub-haanaHu Wa Ta’aalaa menjelaskan musuh yang bagaimana yang dimaksud?
Pada kalimat selanjutnya disebutkan : “شيٰطينَ الإنسِ و الجنِّ” (setan
dari golongan manusia dan jin). Artinya, bahwa musuh para Nabi yang
dimaksud adalah “setan”, dan setan yang dimaksud berasal dari golongan “jin”
dan “manusia”.
Setelah
itu, baru terdapat penjelasan sifat dari setan itu sekaligus sebagai ungkapan
sindiran bagi “musuh” yang berada di sekeliling Nabi Shalla Allahu 'Alaihi
Wasallam dimana kelakuan mereka sama dengan kelakuan para setan yang dahulu
itu, dengan mengatakan : “يوحى بعضهم إلى بعض زخرف القول غرورا” (membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang
indah-indah untuk menipu).
Sampai pada
kalimat itu, menjadi jelas bagi kita bahwa yang disindir adalah kaum musyrikin
yang menyampaikan kata-kata menggiurkan bagi kelompoknya dengan mengajak mereka
mempersekutukan Tuhan dengan Latta dan Uzza dan juga Hubal. Namun, Allah
Sub-haanaHu Wa Ta’aalaa tidak secara jelas menyebutkan bahwa yang dimaksud
adalah Kaum Musyrikin Makkah, melainkan Dia menunjuk kepada SETAN di masa Nabi
sebelum nabi Muhammad Shalla Allahu 'Alaihi Wasallam.
Setelah
sindiran berakhir, maka Allah Sub-haanaHu Wa Ta’aalaa memberikan “penghiburan”
atas keburukan sifat setan itu dengan mengatakan : “ولو شاء ربك ما فعلوه” (dan jika Tuhanmu menghendaki niscaya mereka tidak melakukannya),
artinya Allah Sub-haanaHu Wa Ta’aalaa secara tidak langsung mengatakan bahwa
hal itu tidak perlu diresahkan, karena memang kejadian itu berdasarkan izin-Ku.
Kemudian dilanjutkan dengan “peringatan” : “فذرهم و ما يفترون” (dan
tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan).
Dari
kalimat penghiburan itu, para kaum pengkritik Al Quraan mengajukan pertanyaan :
“mengapa Tuhan mengizinkan SETAN-SETAN itu untuk menjadi musuh bagi Nabi?
Kenapa tidak dijadikan saja sebagai sahabat-sahabat (pendukung)nya? Bahkan di
awal ayatnya dinyatakan ada unsur kesengajaan Tuhan “menciptakan” musuh itu?
Lalu apa
jawaban kita? Kita menjawabnya dengan beberapa jawaban :
a.
Kenapa
Tuhan memakai kata “JA’ALNA”?
Tuhan memakai kata “جعلنا”
pada awal ayat itu karena memang Tuhan yang menciptakan Jin dan Manusia. Tidak
ada yang sanggup mengadakan sesuatu apa pun yang ada ini kecuali hanya Allah
Sub-haanaHu Wa Ta’aalaa semata, termasuk Iblis yang terlaknat itu, juga ciptaan
Tuhan.
b.
Kenapa
Tuhan mengizinkan SETAN menjadi musuh?
Tuhan mengizinkan para setan
itu karena memang kecenderungan mereka untuk memusuhi kebenaran. Dan hal itu
suatu hukum keseimbangan, yaitu : di mana terdapat kebaikan, di situ pula terdapat
penghalang-penghalang kebaikan itu, sebagai bahan ujian bagi mereka yang
mengikuti kebenaran sekaligus sebagai alat untuk menyatakan kebenaran di atas
kejahatan itu.
Sebagai
pendekatan, kita ambil contoh dari tubuh kita sendiri :
Awalnya kita memakan nasi
dari sumber yang sama yaitu beras. Tapi setelah dicerna maka nasi tadi ada yang
menjadi asupan gizi bagi tubuh dan ada pula yang dibuang sebagai kotoran.
Inilah hukum keseimbangan itu. Apakah “perut” anda tidak adil? Tidak!!! Justru
benar-benar adil. Perut mengeluarkan kotoran, dan yang baik menjadi bagian dari
tubuh itu sendiri. Coba anda bayangkan jika semua yang anda makan tetap
tersimpan di dalam tubuh anda...!!! jawabannya tentu akan menjadi sumber
penyakit untuk tubuh.
Itulah
hakekat “mengizinkan” itu, yaitu berlangsung sesuai dengan jalur yang dipilih
oleh masing-masing nasi tadi. Ada yang baik ketika “digiling” oleh lambung dan
ada juga yang jelek (menjadi ampas), hanya saja nasi tidak memiliki akal,
sementara jin dan manusia, Allah Sub-haanaHu Wa Ta’aalaa membekalinya dengan
akal dan hati. Namun, mereka menggunakannya untuk kesesatan mereka sendiri. Oleh
karena telah dibekali dengan akal dan hati itulah pula manusia selalu dituntut
untuk menghindar menjadi “ampas”.
Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamith Tharieq...!!!
[1]
Maksudnya syaitan-syaitan jenis jin dan manusia berupaya
menipu manusia agar tidak beriman kepada Nabi.