Wellcome

SELAMAT DATANG DI BLOG PRIBADI REALIS GEA
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. [QS. 49 : 13]"

Jumat, 16 Januari 2015

MEREKA MENCEMOOH QS. 6 : 112

Oleh : Realis Gea, S.Kom

بسم الله الرحمٰن الرحيم
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)[1]. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. 
Dalam ayat tersebut dikatakan “لكل نبي عدوا” (bagi tiap-tiap nabi itu ada musuh). Pada tahap ini, Allah Sub-haanaHu Wa Ta’aalaa menyampaikan suatu gambaran bahwa manusia yang telah diangkat-Nya sebagai Nabi semuanya mempunyai musuh. Dan hal ini NYATA adanya, bahwa semua para Nabi yang telah muncul di masa lalu, tidak ada yang tidak mempunyai musuh, khususnya nabi-nabi dari bangsa Israel.
Selanjutnya Allah Sub-haanaHu Wa Ta’aalaa menjelaskan musuh yang bagaimana yang dimaksud? Pada kalimat selanjutnya disebutkan : “شيٰطينَ الإنسِ و الجنِّ” (setan dari golongan manusia dan jin). Artinya, bahwa musuh para Nabi yang dimaksud adalah “setan”, dan setan yang dimaksud berasal dari golongan “jin” dan “manusia”.
Setelah itu, baru terdapat penjelasan sifat dari setan itu sekaligus sebagai ungkapan sindiran bagi “musuh” yang berada di sekeliling Nabi Shalla Allahu 'Alaihi Wasallam dimana kelakuan mereka sama dengan kelakuan para setan yang dahulu itu, dengan mengatakan : “يوحى بعضهم إلى بعض زخرف القول غرورا” (membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu).
Sampai pada kalimat itu, menjadi jelas bagi kita bahwa yang disindir adalah kaum musyrikin yang menyampaikan kata-kata menggiurkan bagi kelompoknya dengan mengajak mereka mempersekutukan Tuhan dengan Latta dan Uzza dan juga Hubal. Namun, Allah Sub-haanaHu Wa Ta’aalaa tidak secara jelas menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah Kaum Musyrikin Makkah, melainkan Dia menunjuk kepada SETAN di masa Nabi sebelum nabi Muhammad Shalla Allahu 'Alaihi Wasallam.
Setelah sindiran berakhir, maka Allah Sub-haanaHu Wa Ta’aalaa memberikan “penghiburan” atas keburukan sifat setan itu dengan mengatakan : “ولو شاء ربك ما فعلوه” (dan jika Tuhanmu menghendaki niscaya mereka tidak melakukannya), artinya Allah Sub-haanaHu Wa Ta’aalaa secara tidak langsung mengatakan bahwa hal itu tidak perlu diresahkan, karena memang kejadian itu berdasarkan izin-Ku. Kemudian dilanjutkan dengan “peringatan” : “فذرهم و ما يفترون” (dan tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan).
Dari kalimat penghiburan itu, para kaum pengkritik Al Quraan mengajukan pertanyaan : “mengapa Tuhan mengizinkan SETAN-SETAN itu untuk menjadi musuh bagi Nabi? Kenapa tidak dijadikan saja sebagai sahabat-sahabat (pendukung)nya? Bahkan di awal ayatnya dinyatakan ada unsur kesengajaan Tuhan “menciptakan” musuh itu?
Lalu apa jawaban kita? Kita menjawabnya dengan beberapa jawaban :
a.             Kenapa Tuhan memakai kata “JA’ALNA”?
Tuhan memakai kata “جعلنا” pada awal ayat itu karena memang Tuhan yang menciptakan Jin dan Manusia. Tidak ada yang sanggup mengadakan sesuatu apa pun yang ada ini kecuali hanya Allah Sub-haanaHu Wa Ta’aalaa semata, termasuk Iblis yang terlaknat itu, juga ciptaan Tuhan.
b.             Kenapa Tuhan mengizinkan SETAN menjadi musuh?
Tuhan mengizinkan para setan itu karena memang kecenderungan mereka untuk memusuhi kebenaran. Dan hal itu suatu hukum keseimbangan, yaitu : di mana terdapat kebaikan, di situ pula terdapat penghalang-penghalang kebaikan itu, sebagai bahan ujian bagi mereka yang mengikuti kebenaran sekaligus sebagai alat untuk menyatakan kebenaran di atas kejahatan itu.
Sebagai pendekatan, kita ambil contoh dari tubuh kita sendiri :
Awalnya kita memakan nasi dari sumber yang sama yaitu beras. Tapi setelah dicerna maka nasi tadi ada yang menjadi asupan gizi bagi tubuh dan ada pula yang dibuang sebagai kotoran. Inilah hukum keseimbangan itu. Apakah “perut” anda tidak adil? Tidak!!! Justru benar-benar adil. Perut mengeluarkan kotoran, dan yang baik menjadi bagian dari tubuh itu sendiri. Coba anda bayangkan jika semua yang anda makan tetap tersimpan di dalam tubuh anda...!!! jawabannya tentu akan menjadi sumber penyakit untuk tubuh.
Itulah hakekat “mengizinkan” itu, yaitu berlangsung sesuai dengan jalur yang dipilih oleh masing-masing nasi tadi. Ada yang baik ketika “digiling” oleh lambung dan ada juga yang jelek (menjadi ampas), hanya saja nasi tidak memiliki akal, sementara jin dan manusia, Allah Sub-haanaHu Wa Ta’aalaa membekalinya dengan akal dan hati. Namun, mereka menggunakannya untuk kesesatan mereka sendiri. Oleh karena telah dibekali dengan akal dan hati itulah pula manusia selalu dituntut untuk menghindar menjadi “ampas”. 
Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamith Tharieq...!!!


[1] Maksudnya syaitan-syaitan jenis jin dan manusia berupaya menipu manusia agar tidak beriman kepada Nabi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan komentar yang santun dan membangun serta solusi terbaik dari apa yang anda anggap sebagai kekeliruan. Admin berhak untuk menghapus komentar yang tidak mengindahkan himbauan ini. Terima kasih.