بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم و رحمة الله و
بركاته
Allah Swt berfirman : “Dan berpeganglah
kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan
ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah)
bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena
nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang
neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS. 2 :
103)
Ayat ini sangat tepat jika kita tujukan kepada diri kita,
bangsa Indonesia. Pada awal mulanya Allah SWT menghimbau untuk tidak bercerai
berai; maksudnya tetap berdiri di atas persatuan yang utuh sekalipun diwarnai
dengan nikmat perbedaan di antara umat manusia. Setelah himbauan ini, Allah
melanjutkan dengan peringatan bahwa : dulu sebelum kita menjadi orang “percaya”
kebanyakan kita dalam perseteruan dan permusuhan satu sama lainnya.
Bangsa Indonesia sempat mengalami hal ini ketika kita
diceraiberaikan oleh politik “devide et impera” produksi dan hak paten
penjajah Belanda. Akibatnya, dengan mudah kita dikuasai hingga beratus – ratus
tahun lamanya. Baru setelah timbul kesadaran bahwa permusuhan antar saudara
kita harus dihentikan dan diganti dengan persatuan dan kesatuan. Akhirnya, kita
pun “MERDEKA” sekalipun bangsa Jepang mencoba untuk mengambil alih kekuasaan
Belanda kita dapat lulus dan memenangkannya. Alhamdulillah, ini adalah
nikmat yang diturunkan oleh Allah SWT, Tuhan kita yang tiada terkira sebagai
bangsa Indonesia yang bernegara kesatuan Republik Indonesia.
Nah, setelah Allah SWT menyelamatkan kita dari “jurang
neraka” yaitu alam penjajahan, lama – kelamaan rasa persaudaraan itu
memudar, memudar, memudar dan akhirnya menghilang, hingga ungkapan persaudaraan
tinggal dibibir saja. Apa buktinya?
Tidak bisa disangkal lagi bahwa rasa persaudaraan serta rasa
kebersamaan itu telah hilang yang ditandai dengan perseteruan tersembunyi pada
organisasi terbesar di Republik ini, yaitu : “pengikut” Nahdlatul Ulama (NU)
dan “pengikut” Muhammadiyah. Yang anehnya, para pendiri kedua organisasi
terbesar ini selama hidup mereka toh rukun – rukun saja. Namun, para pengikutnya
saling tuduh menuduh oleh karena perbedaan “hujjah” yang seharusnya dijadikan
sebagai “rahmad” dan bukan sebagai “sumber perpecahan”.
Yang paling menonjol saat ini adalah pada penentuan awal
mulainya bulan Ramadhan dan mulainya hari raya Idul Fitri. Yang satu mengatakan
lebih awal dan yang lain menyatakan lebih akhir. Dan pernyataan mereka masing –
masing didukung oleh dalil – dalil yang bersumber dari Hadits Rasulullah SAW.
Dengan sama – sama mempertahankan “hujjah” ini, akhirnya berjalan sendiri –
sendirilah masing – masing pengikut ini sesuai dengan instruksi pimpinan
tertingginya.
Dengan tidak menyalahkan yang satu dengan yang lainnya,
susahkah jika seluruh hujjah itu disatukan dan dilihat yang lebih utama,
sehingga melahirkan hasil yang tunggal dan tidak saling bertolak belakang?
Tidakkah lebih indah jika ketika telah sampai pada hal – hal yang lebih intim
seperti ini dan berpengaruh pada goyahnya kekokohan, kedua pemimpin tertinggi
ini berunding terlebih dahulu kemudian baru mengumumkan kesepakatan mereka
kepada umum?
Bukankan rasa kebersamaan itu lebih utama dari pada
percerai-beraian? Namun, kenapa masih saja kita mengikuti jalan
percerai-beraian itu? Jika kedua organisasi ini telah satu tekad dalam
kebersamaan, maka musuh – musuh kita semakin segan, dan kita di mata dunia
semakin dikagumi.
Kita sangat sakit jika kita telah diukur dengan mengatakan :
biarkan mereka mengklaim diri mereka sebagai penduduk muslim terbesar di dunia,
asalkan mereka tetap dalam pertikaian. Dan biarkan mereka mengaku sebagai
muslim, tapi yang mengamalkannya jangan sampai kurang dari 10% saja. Apakah anda
merasa bangga mendengar ini atau sakit bagai disayat belati? .............................................……………………….
Sebagai organisasi yang besar kami percaya bahwa keduanya
dapat menata kembali keindahan kebersamaan kita, yang dibuktikan pada penentuan
awal Ramadhan dan awal Hari Raya Idul Fitri di tahun depan.
Perbedaan itu mengandung nikmat, jika dapat diterapkan
dengan bijak; tapi perbedaan itu adalah suatu musibah jika diterapkan dengan
hawa nafsu semata.
Semoga bermanfaat!
Wassalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
NU dan Muhammadiyah sangat diharapkan untuk dapat bersatu dan tidak saling melancarkan politik saling menjatuhkan, melainkan sama - sama menuju kepada ketaqwaan dalam perbedaan dalil, dan seragam dalam aplikasi kehidupan.
BalasHapus