Wellcome

SELAMAT DATANG DI BLOG PRIBADI REALIS GEA
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. [QS. 49 : 13]"

Rabu, 12 Oktober 2011

BERSATUNYA NU DAN MUHAMMADIYAH ADALAH HARAPAN KAMI


بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
Allah Swt berfirman : “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS. 2 : 103)

Ayat ini sangat tepat jika kita tujukan kepada diri kita, bangsa Indonesia. Pada awal mulanya Allah SWT menghimbau untuk tidak bercerai berai; maksudnya tetap berdiri di atas persatuan yang utuh sekalipun diwarnai dengan nikmat perbedaan di antara umat manusia. Setelah himbauan ini, Allah melanjutkan dengan peringatan bahwa : dulu sebelum kita menjadi orang “percaya” kebanyakan kita dalam perseteruan dan permusuhan satu sama lainnya.

Bangsa Indonesia sempat mengalami hal ini ketika kita diceraiberaikan oleh politik “devide et impera” produksi dan hak paten penjajah Belanda. Akibatnya, dengan mudah kita dikuasai hingga beratus – ratus tahun lamanya. Baru setelah timbul kesadaran bahwa permusuhan antar saudara kita harus dihentikan dan diganti dengan persatuan dan kesatuan. Akhirnya, kita pun “MERDEKA” sekalipun bangsa Jepang mencoba untuk mengambil alih kekuasaan Belanda kita dapat lulus dan memenangkannya. Alhamdulillah, ini adalah nikmat yang diturunkan oleh Allah SWT, Tuhan kita yang tiada terkira sebagai bangsa Indonesia yang bernegara kesatuan Republik Indonesia.

Nah, setelah Allah SWT menyelamatkan kita dari “jurang neraka” yaitu alam penjajahan, lama – kelamaan rasa persaudaraan itu memudar, memudar, memudar dan akhirnya menghilang, hingga ungkapan persaudaraan tinggal dibibir saja. Apa buktinya?

Tidak bisa disangkal lagi bahwa rasa persaudaraan serta rasa kebersamaan itu telah hilang yang ditandai dengan perseteruan tersembunyi pada organisasi terbesar di Republik ini, yaitu : “pengikut” Nahdlatul Ulama (NU) dan “pengikut” Muhammadiyah. Yang anehnya, para pendiri kedua organisasi terbesar ini selama hidup mereka toh rukun – rukun saja. Namun, para pengikutnya saling tuduh menuduh oleh karena perbedaan “hujjah” yang seharusnya dijadikan sebagai “rahmad” dan bukan sebagai “sumber perpecahan”.
Yang paling menonjol saat ini adalah pada penentuan awal mulainya bulan Ramadhan dan mulainya hari raya Idul Fitri. Yang satu mengatakan lebih awal dan yang lain menyatakan lebih akhir. Dan pernyataan mereka masing – masing didukung oleh dalil – dalil yang bersumber dari Hadits Rasulullah SAW. Dengan sama – sama mempertahankan “hujjah” ini, akhirnya berjalan sendiri – sendirilah masing – masing pengikut ini sesuai dengan instruksi pimpinan tertingginya.

Dengan tidak menyalahkan yang satu dengan yang lainnya, susahkah jika seluruh hujjah itu disatukan dan dilihat yang lebih utama, sehingga melahirkan hasil yang tunggal dan tidak saling bertolak belakang? Tidakkah lebih indah jika ketika telah sampai pada hal – hal yang lebih intim seperti ini dan berpengaruh pada goyahnya kekokohan, kedua pemimpin tertinggi ini berunding terlebih dahulu kemudian baru mengumumkan kesepakatan mereka kepada umum?

Bukankan rasa kebersamaan itu lebih utama dari pada percerai-beraian? Namun, kenapa masih saja kita mengikuti jalan percerai-beraian itu? Jika kedua organisasi ini telah satu tekad dalam kebersamaan, maka musuh – musuh kita semakin segan, dan kita di mata dunia semakin dikagumi.

Kita sangat sakit jika kita telah diukur dengan mengatakan : biarkan mereka mengklaim diri mereka sebagai penduduk muslim terbesar di dunia, asalkan mereka tetap dalam pertikaian. Dan biarkan mereka mengaku sebagai muslim, tapi yang mengamalkannya jangan sampai kurang dari 10% saja. Apakah anda merasa bangga mendengar ini atau sakit bagai disayat belati? .............................................……………………….

Sebagai organisasi yang besar kami percaya bahwa keduanya dapat menata kembali keindahan kebersamaan kita, yang dibuktikan pada penentuan awal Ramadhan dan awal Hari Raya Idul Fitri di tahun depan.

Perbedaan itu mengandung nikmat, jika dapat diterapkan dengan bijak; tapi perbedaan itu adalah suatu musibah jika diterapkan dengan hawa nafsu semata.

Semoga bermanfaat!

Wassalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

1 komentar:

  1. NU dan Muhammadiyah sangat diharapkan untuk dapat bersatu dan tidak saling melancarkan politik saling menjatuhkan, melainkan sama - sama menuju kepada ketaqwaan dalam perbedaan dalil, dan seragam dalam aplikasi kehidupan.

    BalasHapus

Berikan komentar yang santun dan membangun serta solusi terbaik dari apa yang anda anggap sebagai kekeliruan. Admin berhak untuk menghapus komentar yang tidak mengindahkan himbauan ini. Terima kasih.